Rand Slam: Bintang Kejora Hip-Hop di Tanah Jawa

By Alfian Putra A.

Published on: 2018/01/29 22:56

BERKAH RIMA PENUH IMAJINASI

RAND Slam merasa bahagia ketika debut album Rimajinasi miliknya rilis. Lebih dari itu mampu menjangkau telinga kawanan media massa dan mendapatkan respon positif, salah satunya dari Rolling Stone Indonesia. Serta dinobatkan pula sebagai album terbaik 2017 oleh Vice Indonesia  dan Warning Magazine.

Vice Indonesia menulis, “Rimajinasi mampu mengekspos dan mengeksplorasi bahasa indonesia lebih luas, mendalam, rinci, ke bagian teknis penulisan lirik rap. Warisan generasi hari ini, salah satunya Rand Slam, yaitu pengembangan estetika dan linguistik yang luar biasa dari bahasa Indonesia.”

Sedangkan Warning Magazine menyematkan kata ‘canggih’ ketika membicarakan Rimajinasi. “Materi dalam Rimajinasi memeragakan teknik rangkai rima dan flow yang canggih. Selain itu, tiap aksi kolaborasi di album ini juga tak pernah sia-sia karena selalu menghasilkan kesan kuat.”

Berkat apresiasi tak terduga itu, Rand Slam mengelus dadanya dan merekahkan senyum atas apa yang telah diperbuatnya. “Karena artinya ada yang menangkap visi saya saat membuat album ini. Dan yang paling utama ada orang-orang yang serius mendengarkan apa yang coba saya sampaikan di album ini,” ujarnya pada saya (05/01/2018).

Rand Slam mengawali pengembaraan Rimajinasi pada Juni 2017, single “Malam Minggu” keluar sebagai utusan pertama guna menghadapi pendengar. Single kolaborasinya bersama Senartogok tersebut menuai respon positif. Lagi-lagi Vice Indonesia menyanjung bahkan menyebut single tersebut lebih keren dari pada trek berjudul serupa milik 7 Kurcaci.

“Awalnya saya menganggap single ini sepele, nonton videonya sambil lalu saja. Paling-paling liriknya cupu seperti 7 Kurcaci, pikir saya. NJING. Saya kecele,” tulis Vice Indonesia dalam artikel berjudul Rand Slam dan Senartogok Bikin Malam Minggu Kita Keren Lagi.

Secara pribadi, saya menganggap “Malam Minggu” sebagai gerbang pembuka untuk mengenal Rand Slam dan Rimajinasi-nya. Dengan barisan kata dan rima yang tertutur lincah, Rand merangkum kisahnya sampai di titik sekarang hanya dalam lima menit sembilan detik. Di tambah dengan sampling music pinjaman dari Gerap Gurita, menjadikan lagu tersebut serupa fenomena. Pilihan yang tepat, menurut saya, menjadikannya sebagai pengawal.

Adalah Senartogok, orang yang merangkap pula sebagai produser Rimajinasi, yang menyarankan menggunakan sampling music milik band folk punk Jogjakarta tersebut pada Rand. “Ketika itu dia (Senartogok) sedang getol melakukan sampling lagu-lagu folk Indonesia. Saya sebenarnya sudah mengincar beat nya sejak saat itu,” ungkap Rand, “kebetulan juga kami sudah pernah meminjam sample lagu Gerap Gurita untuk lagu ‘Nenek Moyangku Seorang Penyair’ milik Senartogok. Kemudian kami memiliki ide untuk membuat seri lanjutan dari lagu tersebut, yang berujung pada terciptanya lagu ini.”

Ketika sedang membuat “Malam Minggu”, Senartogok memang mengakui sedang dirundung kagum oleh musik Irish Punk semisal Dropkick Murphy, The Pogues hingga The Men The Couldn’t Hang. “Waktu itu saya berpikir bahwa kebanyakan sample-sample yang dipotong kengkawan (kawan-kawan,Red) beatmaker sekitar saya, mengambil soul, jazz, motown, hingga metal,” ujar Senartogok yang saya wawancarai terpisah (24/05/2018), “saat pembuatan ‘Malam Minggu’ saya banyak mendengar karya-karya Gerap Gurita kembali, dan ide terlintas begitu saja, membuat trek malam minggu yang isinya sedikit lebih santai.”

Masih di bulan yang sama, Rand Slam melepas utusan kedua, trek "Ayat" disodorkan ke publik. Salah satu lagu yang menurutnya melalui proses rumit dari pada lagu lainnya di Rimajinasi. "Walaupun sejak pertama kali saya meminta Senartogok untuk me-sample lagu ini. Saya sudah tau apa saja yang ingin saya sampaikan, namun ternyata prosesnya memakan waktu lebih lama dari yang saya perkirakan," ungkap rapper kelahiran 1992 tersebut.

Yang menjadikannya lama ialah persiapan segala sesuatunya, supaya lagu tersebut tidak terdengar klise di telinga pendengar. Rand Slam mulai meramu "Ayat" sejak tahun 2016, dengan melakukan riset terlebih dahulu, membaca, dan menyimak berita di koran serta media daring. Rand juga mempelajari lagu-lagu dengan tema serupa, salah duanya dari trek "White America" milik Eminem dan "Black Republican" dari Nas.

"Musik di lagu ini (Ayat.Red) juga menuntut saya untuk sedikit keluar dari kebiasaan saya saat ng-rap," ungkapnya, "gak nyangka kalau lagu ini ternyata banyak didengar orang. Saya sering diminta untuk membawa lagu ini ketika tampil di panggung, bisa di katakan 'Ayat' sudah menjadi lagu andalan saya di album ini."

Selain dinobatkan sebagai album hip-hop lokal terbaik untuk tahun 2017 oleh tiga media yang tersebut di awal, Rimajinasi mengalami penjualan yang cukup signifikan. Dalam era di mana daya konsumsi rilisan fisik memudar dan fakta bahwa hip-hop masih menjadi musik komunitas. Rand Slam berhasil menjual 400 keping lebih Rimajinasi dalam bentuk cakram padat hanya dalam enam bulan. "Saya mencetak 500 keping, yang sekarang tersisa kurang lebih 100 keping lagi," ujarnya.

Senartogok menilai hal tersebut karena semangat bergerilya Rand dalam mempromosikan albumnya, serta yang utama kualitas yang dimilikinya. Menurutnya Rand Slam banyak melakukan hal yang baru dan jarang dilakukan rapper sebelumnya. "Terutama teknik rap nya yang berhubungan erat dengan penggunaan rima," tukas Senartogok, "kita dapat mendengar bunyi multi talenta-multatuli, atau kontradiksi dengan kontra-diksi yang terdengar sama ketika diucapkan. Namun memiliki makna berbeda ketika membaca bagian itu."

Album Rimajinasi menggandeng enam kolaborator: Instinc, Juta, Matter Mos, Strike the Head dari Italia, Joe Million, dan termasuk Senartogok yang banyak menyumbang musik. Enam nama tersebut adalah orang-orang yang menurut Rand memiliki visi yang sama dalam berkarya. "Dan tentunya harus bagus menurut saya," tekannya seraya tertawa.

Nama Senartogok menjadi yang paling banyak tercatat dalam produksi Rimajinasi, dia berperan sebagai produser sekaligus penyumbang suara. "Adanya Senartogok di Rimajinasi adalah sebuah keharusan, karena dia yang sudah membantu sejak awal pembuatan album ini," ujarnya.

Rand Slam berkenalan dengan Senartogok ketika mereka terlibat dalam pembuatan album Vulgar milik Joe Million di tahun 2015. Ketika itu Senartogok bertindak sebagai produser musiknya dan Rand Slam penyedia alat rekam sederhananya. "Waktu itu kami sedang merampungkan trek 'Menunda Mati', trek pertama di album Vulgar. Di sana pertemuan pertama saya dengan Rand Slam. Dia masih sangat langsing waktu itu," kenang Senartogok.

Intensitas mereka mulai berlanjut, Rand Slam sering mampir ke Sekretariat ISH Tiang Bendera ITB untuk sekedar bertukar pikiran dengan Senartogok. Begitu pula sebaliknya, Senartogok sering kali menginap di kontrakannya, sekedar menghabiskan pasokan kopi instan ataupun menyimak CD, kaset dan komik milik Rand.

Memasuki tahun 2017, mereka berada di titik yang sama, terpuruk secara ekonomi dan eksistensialisme. Kondisi tersebut serupa api yang terlontar dalam literan bensin, api semangat mereka membara untuk memulai Rimajinasi lebih cepat dari rencana awal. Namun bukan itu alasan sepenuhnya Senartogok melibatkan diri dalam proyek Rand, ia punya alasan lain. "Dia (Rand Slam.Red) merupakan MC terbaik yang dimiliki generasi saya. Saya melihat keseharian beliau dan upaya dia yang besar mengasah, belajar, berlatih, dan menguliti hip-hop atau rap. Hanya itu alasan saya untuk mau berkontribusi, karena memang saya tak punya kemampuan sepertinya," ungkap Senartogok.

Selain Senartogok, nama Joe Million pun selalu hadir di setiap rilisan Rand. Dalam album mixtape Kosakata (2016) Joe Million menyumbang suara pada trek "The Real Me". Dalam Rimajinasi, ia bernyanyi untuk "Kelas Berat". "Kami sudah kenal sejak SMA, kami juga sudah sering membuat lagu bersama sejak awal berkarir. Saya sering ikut mengisi lagu dia di beberapa proyek solonya, begitupun sebaliknya," Rand menjelaskan, "biasanya di setiap rilisan, salah satu nama pertama yang muncul di kepala saya untuk diajak berkolaborasi adalah Joe."

Selain dikarenakan hubungan pertemanan yang sudah terjalin sejak lama, sulit untuk Joe Million menolak tawaran kolaborasi di Rimajinasi. "Karena beat nya bagus dan tidak mungkin menolak tawaran kolaborasi dari Rand Slam. Haram hukumnya!" ungkap Joe pada saya (26/01/2018).

Banyak teknik bahasa yang harus dipelajari sebelum mulai membuat lagu rap. Tidak semudah menjadi viral di youtube dan menjadi rapper dadakan.
TITIK TERBANG BINTANG KEJORA

Ada satu lagu yang Rand Slam persembahkan khusus untuk rapper veteran Iwak K, salah seorang yang telah mengenalkan hip-hop secara tak langsung padanya. Selain itu, lagu yang berjudul sama dengan debut albumnya ini, juga berbicara soal menjadi hip-hop tak semudah yang masyarakat pikir. "Ada banyak teknik bahasa yang harus dipelajari sebelum mulai membuat lagu rap, gak semudah menjadi viral di youtube dan menjadi rapper dadakan," tegasnya.

Rand Slam lahir dan tumbuh di Jayapura sampai tamat SMA pada tahun 2010. Ketika masih berada di pulau paling Timur Indonesia itu, dirinya mengenal hip-hop. Perkenalannya benar tidak sengaja, Rand Slam yang waktu itu masih duduk di bangku tiga SMP baru saja membeli Nokia N-Gage Classic. Begitu menjelajah telepon genggam barunya, dia menemukan "Nuthin' But a G Thang" milik Dr. Dre dan Snoop Dogg. Sejak saat itu pengembaraan hip-hopnya bermula, Rand mulai bertukar lagu dengan teman sepermainannya. "Di sana hampir semua anak muda suka musik hip-hop, RnB, atau reggae. Jadi saya secara nggak sadar kebawa," kenangnya, "setiap ada yang punya lagu hip-hop baru pasti dikerumunin untuk diminta."

Begitu tamat SMA dan memutuskan untuk belajar hidup di Pulau Jawa. Jakarta menjadi pendaratan pertamanya, bukan untuk hip-hop melainkan ikut dalam lembaga swasta yang akan mewujudkan impiannya kuliah di luar negeri. Namun hal tersebut urung, Rand memilih untuk bekerja. Di sela rutinitasnya, dia menemukan e-book berjudul The Rappers Handbook, yang kemudian sangat membantunya berproses. "Saya mulai banyak ngulik sendiri soal hip-hop, mulai berani nulis dan sok ngrekam," ungkapnya.

Setahun berikutnya, Rand memutuskan untuk pindah ke Bandung. Di Kota Kembang, dia dipertemukan kembali oleh karib SMA nya dulu, Joe Million yang saat itu tercatat sebagai mahasiswa ITB. Kenangan ketika membawakan "The Real Slim Shady" di sekolah dulu, mereka bawa ke kota rantau. Mereka intens bertemu dan membicarakan hip-hop. Bahkan Joe mengakui Rand yang membuatnya terjun menekuni hip-hop. "Suatu waktu Rand Slam memberikan softcopy pdf buku hip-hop itu. Dan saya pun ikut serius menggeluti hip-hop. Kami pun membuat trek bersama di kosan saya dan terus aktif menghasilkan trek sejak saat itu," kenang Joe Million.

Sebelumnya Rand pernah mendirikan grup hip-hop Super Flava, bersama dua sahabat lainnya, MG dan Ayaw. Namun karena keduanya memutuskan kuliah di luar negeri. Rand melanjutkannya bersama Joe. Duo rapper itu menghasilkan dua mixtape bersama atas nama Super Flava, dilanjutkan oleh proyek solo masing-masing. Joe keluar dulu di tahun 2016 dengan Vulgar, di susul setahun berikutnya Rand dengan Rimajinasi.

Bandung menjadi pilihan tepat untuk melebarkan sayap. Di sana Rand banyak belajar tentang hip-hop. Dia mengakui, warna musik dan penulisan liriknya banyak berubah karena hasil masukan dari tiga figur yakni Senartogok, Morgue Vanguard, dan Doyz. "Mereka bertiga adalah mentor-mentor saya," ungkapnya.

Di kota yang nun jauh dari tempat kelahirannya, Rand tidak hanya lepas landas sebagai rapper. Bersama Senartogok, mereka merintis pijakan mengelola label rekaman berbasis kolektif, Def Bloc.  Morgue Vanguard, yang kebetulan lebih dulu mulai menjalankan Grimloc Records banyak member masukan untuk itu. Def Bloc kemudian menjadi rumah bagi Rimajinasi, serta Satir milik Juta, dan V/A.Pretext for Bumrush.

Def Bloc hadir atas keinginan Rand dan Senartogok untuk bisa mandiri melepas karya. "Tanpa ada intervensi dan gangguan dari pihak luar. Yang sering terjadi di label," ujar Rand.

Membicarakan Rand Slam dan Rimajinasi, tentu sulit untuk menampiknya sebagai rapper dengan rima yang lincah, pemilihan diksi dan penggunaan metafora yang tepat. Semua itu mengantarkan dirinya menembus batas pendengar. Rand boleh saja berbangga hati ketika albumnya menuai respon bagus dari khalayak. Namun yang terpenting ialah Rand harus bersuka cita bahwa kerja kerasnya menekuni hip-hop, beranjak satu level ke atas. Pemilihan judul kata Rimajinasi sebagai nama album, menjadi tujuannya menerbangkan imajinasi pendengar melalui rima.

"Tentunya pesan-pesan yang ingin saya sampaikan ini harus diimbangi dengan teknik berceloteh yang kuat, karena menurut saya pesan yang baik harus disampaikan dengan cara yang baik juga," tandasnya.[]

Bagikan Artikel
Artikel Terkait

The Disaster Artist Dari James Franco Adalah Salah Satu Film...

The Disaster Artist bisa dibilang sebagai sebuah film positif yang membawa pesan tentang mimpi dan a...

By: Haetam Attamimy

Baca selengkapnya

New Music: Week 4 of February 2018

Surprise: Joe Kerry dari Stranger Things memiliki band yang ternyata sangat berkualitas!

By: Haetam Attamimy

Baca selengkapnya

Antisipasi Film Pilihan Bulan Agustus 2018

Mungkin kamu sudah disuguhi daftar film coming soon di website-website bioskop atau poster-poster, n...

By: Reza Reinaldo

Baca selengkapnya
Loading…